Berita

Jika Tidak Berkenan Untuk Mendukung, Sebaiknya Jangan Menghujat

Berhubung pemilihan kepala daerah tengah menjadi banyak perbincangan. Baik itu dibalik meja-meja redaksi berbagai media, ada juga diantara warung-warung kopi dan pengajian-pengajian umum. Ditambah lagi halaman-halaman sosial media yang memposting ribuan tentu menghisi hari-hari kita untuk berselancar di dunia maya.

Nah, kalau di Jakarta, mereka yang rajin mendatangkan pusat perbelanjaan tentu akan familiar dengan gerakan #temanAHOK. Yaps, gubenur pertahanan DKI Jakarta berniat untuk running for the governor di periode mendatang. Sebab, kali ini AHOK akan melewati jalur independen. Yang artinya ia sangat membutuhkan dukungan dari warga Jakarta.

Namanya juga hidup ya, selalu ada yang pro dan kontra. Selalu ada yang setuju dan tidak setuju. Begitu juga dengan rencana Ahok ini. Tentu saja bagi kalangan tertentu, Ahok yang berambisi untuk kembali menduduki tahta tertinggi di Jakarta ini terdengar janggal. Saat sebagian yang lain malah mengharapkan ia meneruskan kepemimpinannya yang nyata-nyata lebih punya gigi.

Seharusnya Kita Mampu Mengutamakan Perbedaan

Bertindak dengan bijak. Melihat perbedaan yang ada sebagai sebuah keniscayaan yang memang harus ada. Bukan justru menjadikannya sebagai tantangan yang merepotkan diri sendiri. Sadar bahwa setiap orang punya pilihan dan kecenderungan politik masing-masing, idealnya tidak membuat kita jengah kemudian bersikeras memaksakan pendapat pribadi.

Hal ini justru seharusnya bisa membuat kita berpikir lebih mendalam lalu merenung. Lalu mewujudkannya dengan sikap toleransi yang mendewasakan. Saling menghargai pendapat tidak merugikan toh? Malah dengan begitu, kebaragaman yang ada akan nakmap semakin manusiawi.

Tidak Perlu Harus Menjatuhkan Apalagi Sampai Memberikan Kesan Negatif

Rasanya sudah tidak zaman lagi membeirkan label kepada seseorang. Apalagi pemberian label dimaksudkan untuk menjatuhkan atau memberikan kesan negatif. Bagi saya pribadi, labelisasi ini adalah cara mereka yang ingin praktis. Enggan berpikir lebih strategis untuk menemnukam formula tepat. Kasihan sekali. Ditambah, labelisasi saat Pilkada semacam ini  punya potensi untuk memecah belah. Karena biasanya dilatarbelakangi oleh SARA. Menyedihkan bukan?

Kalian sadar nggak sih? Cuma mereka yang pandir saja yang memberikan label kepada orang lain? Artinya mereka belum punya strategi apapun selain membetuk opini negatif terhadap lawan-lawannya. Yang secara sporadis disebarkan dengan tidak terkendali. Lihat betapa rendahnya perbuatan itu.

Apa Salah Jika Menjadi Seorang Pemimpin Tidak Seagama

Sama sekali tidak ada yang salah. Pemerintah membuka kesempatan lebar untuk siapa saja yang capable untuk maju memimpin daerah di negeri ini. Rasanya tidak ada batasan, hanya agama tertentu saja yang layak atau boleh diperkenankan untuk menjadi pemimpin.

Yang jadi masalah adalah mereka yang tidak seagama dengan Si Calon Pemimpin kemudian memberikan sentimen negatif kepada yang bukan mereka dukung. Berikan kesempatan kepada teman-teman yang menganut agama lain untuk bersuara. Untuk tidak sekadar menjadi pelengkap.

Pada akhirnya hasil pemilihan masih menjadi sebuah misteri kan? Lalu mengapa repot-repot dan merasa kepanasan jika hasilnya nanti saja kita semua belum tahu? Mengapa sibuk melakukan dikotomi padahal toh nantinya kita semua akan dipimpin oleh satu orang.

Kata Kafir Adalah Bentuk Penghakiman Yang Bukan Pada Tempatnya

Saya Muslim. Dia Kristiani. Mereka Hindu. Kalian Budha. Itu adalah sunnatullah. Kita semua tahu sejak jutaan tahun lalu, Bumi ini memang tidak pernah punya satu agama. Harusnya kita semua sudah terbiasa dengan perbedaan keyakinan ini, kan? Seharusnya ini bukan hal baru lagi.

Kalau sudah begitu, menghakimi mereka yang tidak seagama dengan kita adalah hal yang keliru. Mengapa demikian? Pertama, karena semua orang punya hak yang sama di mata hukum dan negara. Kedua, persoalan agama adalah perkara personal yang paling intim untuk setiap invdividu.

Bagaimana mungkin kita bisa menghakimi dan mengatakan agama lain lebih hina dari agama yang kita anut sekarang? Bagaimana mungkin ada orang yang dengan ceroboh bisa berpikir sepandir demikian?

Mengapa Tidak Berusaha Memperbaiki Diri dan Menjunjung Toleransi Tanpa Hujat

Pertandingan yang elegan dan berkelas tidak dimulai dengan penghakiman. Idealnya, sebuah pertandingan dilakukan secara adil dengan semangat kesetaraan dalam satu visi. Dalam konteks Pemilukada, visi itu adalah menyejahterakan masyarakat. Hujat-menghujat adalah awalan yang buruk. Sama sekali tidak mencerminkan ciri masyarakat madani. Jauh dari karakter masyarakat yang beradab dan berpendidikan.

Rasanya akan jauh lebih elok jika apa yang kita lihat menuju Pemilikada nanti adalah hal-hal positif yang sinergi. Para petarung politik saling pamer kepedulian dan kebersamaan. Di saat yang sama para pendukung mereka juga berjalan di belakangnya. Mendukung dengan turut menjadi perpanjangan tangan calon pilihannya. Tentu saja caranya tidak dengan menghujat atau menyebarkan kabar tanpa tabayun di mana-mana.

Most Popular

To Top